Welcome

;

Minggu, 23 Januari 2011

Penyakit di Akhir Zaman


Welcome to Soluta Remaja Masjid Baitul A'laa

Istilah wahan diungkapkan oleh Nabi Muhammad saw-tatkala menjelaskan kondisi umat manusia di masa akan datang. Penyakit wahan ini menjadi penyebab utama segala keburukan dan keterpurukan umat Islam sehingga karenanya mereka menjadi bulan-bulanan musuh-musuh islam. Bahkan lebih tragis lagi, Nabi Muhammad saw mengibaratkan mereka laksana makanan yang menjadi rebutan orang-orang rakus yang kelaparan.

Dari Tsauban radliyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah saw bersabda, "Akan datang suatu masa, di mana bangsa-bangsa akan mengeroyok kalian seperti orang-orang rakus memperebutkan makanan di atas meja.

Ada seorang yang bertanya, 'Apakah karena pada saat itu jumlah kami sedikit?'

Rasulullah saw menjawab: 'Tidak, bahkan kamu pada saat itu mayoritas, akan tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air laut. Sesungguhnya Allah telah mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan telah mencampakkan penyakit al wahan pada hati kalian'.

Seorang sahabat bertanya: 'Ya Rasulallah, apa penyakit al wahan itu?.'

Rasulullah saw-menjawab: 'Al Wahan adalah penyakit cinta dunia dan takut mati' ". (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)

Sebab-sebab Wahan

Penyakit wahan timbul karena merasuknya cinta kepada dunia ke dalam hati manusia, seperti cinta berlebih kepada harta, benda, tahta, wanita, dan lainnya. Dari kecintaan dunia yang sangat berlebih nantinya akan melahirkan mental pengecut yang takut mati.

Cinta dunia dan takut mati saling berkait, laksana satu paket. Keduanya menjadi penyebab kehinaan dalam agama di hadapan musuh. Semoga Allah melindungi kita darinya.

Akibat dari penyakit wahan akan menumbuhkan keengganan berjuang dan berjihad untuk mempertahankan iman dan memperjuangkan agama. Padahal meninggalkan jihad merupakan sebab keterpurukan umat ini. Rasulullah saw bersabda:

"Jika kalian berdagang dengan sistem 'inah (salah satu bentuk riba), kalian ridha dengan peternakan, kalian ridha dengan pertanian dan kalian meninggalkan jihad maka Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian." (HR. Ahmad, Abu Daud dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam al Silsilah, No. 11)

hadits ini menyimpulkan bahwa dalam hadits terdapat celaan dan ancaman bagi orang yang sibuk dengan pertanian dan peternakannya di saat musim jihad. Dari situ dapat disimpulkan bahwa di antara dimaksud dengan Dien (yang menjadi solusi dengan kembali padanya) dalam hadits ini adalah Jihad. Karena shalat, zakat, puasa, haji dan dzikir tidak akan mampu mengangkat umat ini dari kehinaan. Semua ibadah ini memang merupakan bagian dari Ad-Dien dan mempunyai peran penting, dalam melenyapkan kehinaan ini.

Manusia pada dasarnya ingin kaya, pangkat tinggi, memiliki pangaruh yang besar, terkenal di mana-mana, dan mempunyai istri yang cantik. Manakala seseorang telah mencapai keinginannya sementara aturan-aturan Allah tidak dipergunakan dalam mengatur dan mengendalikan kekayaan dunianya, maka inilah yang disebut materialistis, alias cinta dunia.

Faham materilisme ini sama sekali tidak dibolehkan dalam ajaran Islam, bahkan adalah merupakan musuh Islam yang tergolong utama. Faham ini merupakan warisan dari Iblis la'natullahi'alaihi, yang memang kehadiran dan keberadaanya di dalam diri hanya untuk menggoda agar manusia rusak, sehingga (pada akhirnya kelak) menjadi penghuni neraka bersama Iblis.

Kepada Iblis Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya: "Apakah yang menghalangimu sujud kepada Adam?" Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah ?" (QS.Al-A'raaf: 12).

Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan timbulnya penyakit wahan di masyarakat muslim, yakni:

1. Kaum muslimin banyak yang belum memahami karakteristik ajaran Islam itu sendiri. Akibatnya, dengan mudah mereka menerima faham-faham yang tidak sesuai ajaran Islam. Mereka hanya menerima hal-hal yang sesuai dengan tuntutan hawa nafsunya. Sedangkan hal-hal yang jelas berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam dilihat dan disikapinya sebagai suatu beban dan menyusahkan kehidupan. Mereka merasa ragu dan telah phobi terhadap Islam.

2. Pengaruh racun berpikir yang disuntikan sejak lama oleh musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin. Proses pencekokan tersebut berlangsung dengan demikian halus dan terorganisir, sehingga umat Islam menjadi lemah dan terpecah-pecah. Hal itu sesungguhnya amat kita lihat dan rasakan.

3. Kekuasaan militer, politik dan pemerintahan yang tidak berada di tangan kaum muslim sehingga urusan umat Islam diserahkan kepada orang-orang kafir lagi fujur, fasik dan munafik. Mereka mengangkangi kaum muslimin dalam berbagai bidang.

4. Untuk mewujudkan cita-citanya musuh-musuh Islam (Yahudi dan Nasrani) merancang taktik strategi untuk menghadapi umat Islam. Mereka memanfaatkan kekayaan, ilmu pangetahuan, dan teknologi yang mereka miliki untuk menghadapi dan memperdaya umat Islam. Sehingga situasi dan kondisi dunia lslam benar-benar dalam keadaan lemah, terbelakang, terpecah-pecah, dan malah sesama umat Islam itu sendiri saling beradu dan bermusuhan.

Membasmi Penyakit Wahan

Penyakit wahan ini bisa diatasi dengan jalan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kembali kepada tuntunan ajaran Islam.Mereka yang merasa bahwa penyakit ini telah menghinggapi dirinya hendaklah melakukan langkah-langkah berikut :

1. Meningkatkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hari akhir, sampai pada derajat yakin. Dengan keyakinan ini penyakit cinta dunia atau takut mati akan hilang.

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al Hadid:20)

2. Selalu mengkaji dan memahami ajaran Islam, terutama bidang akidah, yang merupakan inti ajaran Islam.

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang Hak) melainkan Allah." (QS.Mubammad: 19)

3. Menghayati perspektif Islam terhadap konsep kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Islam tidak mengharamkan dunia dan perhiasannya, akan tetapi menjadikannya sebagai alat untuk mencapai kehidupan dan kebahagjaan akhirat.

4. Meningkatkan dan memantapkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan demikian maka sifat qana'ahnya muncul dan menjadi citra diri dan kehidupannya. Rasa syukurnya semakin meningkat, dan tawadhu (rendah hati) akan menjadi benteng dan sekaligus penghias dirinya.

"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl:96).

5. Berjihad di jalan Allah dengan segenap kemampuannya yang ada. Karena orang yang berjihad telah menjual diri dan hartanya kepada Allah dengan surga. Dan ini adalah sebesar-besar ketundukan kepada-Nya dan sebesar-besar pengorbanan untuk-Nya. Maka tepat sekali jika Allah menjamin hidayah bagi orang yang benar dalam jihadnya.

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Furqaan :52)

sumber : www.Lantabur.tv

Selasa, 28 September 2010

Experience "or" Expired is the Best Teacher?

Experience "or" Expired is the Best Teacher?

Experience (pengalaman) atau Expired (kadaluarsa) adalah guru yang terbaik. Begitulah kira-kira arti judul diatas.
Kata "atau" itu artinya sebuah pilihan, berarti kedua subjek berdiri sendiri-sendiri dan memiliki arti yang berbeda jika diterjemahkan terpisah.
Lalu "pengalaman" atau "kadaluarsa" kah guru yang terbaik itu?

Anda mungkin penasaran Sebenernya saya ngomong apa sih? Kali ini saya ingin berbicara tentang "masa lalu" atau perbuatan yang pernah kita lakukan. Jadi secara pribadi saya mendeskripsikan "masa lalu" / perbuatan yang pernah kita lakukan itu bisa jadi "pengalaman" atau juga sudah "kadaluarsa".

Pertanyaan saya disini Anda lebih suka memakai kata yang mana tentang masa lalu Anda? Apakah Anda menganggap masa lalu itu sebuah PENGALAMAN atau itu merupakan hal yang sudah KADALUARSA sehingga tidak perlu digubris atau dipermasalahkan lagi?

Saya disini tidak ingin memaksa atau membenarkan salah satu jawaban, apapun jawaban Anda bisa jadi itu benar bisa juga itu salah.

Okey, sekarang saya kasih gambaran seperti ini. DULU Anda pernah menjadi Juara kelas. Pertanyaan saya "masa lalu" Anda itu lebih senang Anda simpan agar sewaktu-waktu bisa diingat-ingat atau justru anda buang karna Anda anggap sudah "kadaluarsa"?.

Gambaran saya yang ke-2. DULU anda pernah berbuat kesalahan sehingga Anda kecewa. Pertanyaan saya, anda akan menganggap "masa lalu" anda itu untuk terus diingat-ingat sehingga anda akan menyesalinya terus. Atau anda akan menggangap sebagai kenangan masa lalu yang harus dilupakan alias "kadaluarsa"?

Apapun itu jawaban Anda bisa benar bisa tidak tepat sesuai kondisi yang anda alami. Mengapa demikian? Begini, ketika sebuah "masa lalu" itu memBAHAGIAkan bisa jadi itu sebuah motivasi atau justru melemahkan. Bisa jadi itu sebuah motivasi ketika masa lalu yang BAHAGIA itu anda SYUKURI sehingga anda merasa "kecil" dihadapanNYA dan anda memiliki dorongan yang kuat untuk minimal bisa seperti masa lalu itu bahkan lebih, dan dengan Anda berSYUKUR, keBAHAGIAan itu pasti diTAMBAH oleh ALLOH SWT. Sebaliknya bisa jadi masa lalu yang bahagia itu menjadi batu sandungan bagi anda ketika mengingat-ngingatnya. Ya, itu bisa terjadi jika kebagiaan itu membuat anda lupa diri, sombong, takabur, merasa pol sendiri karena merasa "dulunya" hebat. Apalagi jika kondisinya saat ini sedang jatuh, lalu dia teringat masa lalunya yang bahagia dan dia tidak mensyukurinya maka dia akan semakin jatuh karena hanya terus meratapi keadaannya. Atau bisa juga misalnya bagi anda yang sudah menikah, dulu anda mencintai seseorang selain pasangan anda saat ini tentunya saat-saat masa lalu yang bahagia itu tidak bisa selamanya anda ingat-ingat karena anda saat ini sudah punya pasangan hidup abadi. Anda harus membuat cerita bahagia yang baru di catatan kehidupan anda hanya dengan dia (baca :suami/istri).

Jadi masa lalu yang BAHAGIA itu bisa jadi pengalaman yang harus diingat-ingat atau sebagai sesuatu yang harus dilupakan atau bahasa lainnya "kadaluarsa".

Lalu bagaimana dengan "masa lalu" yang SEDIH? Yak, saya tau sepertinya anda juga menebak paling jawabannya sama. Tapi sebelum anda tau bagaimana ulasan saya, kita kupas bersama dulu.

Masa lalu yang SEDIH/BURUK sehingga membuat Anda jadi kecewa, menyesal tak selamanya harus anda buang atau diingat-ingat terus.

Gambarannya begini. Ketika anda menyesali masa lalu anda, sama halnya dengan diatas, bisa jadi itu sebuah MOTIVASI atau PENGHAMBAT. Masa lalu yang mengecewakan bisa jadi motivasi tatkala anda belajar dari kesalahan/kejadian yang lalu sehingga anda akan berusaha untuk menghindari kejadiaan itu terulang lagi, setidaknya anda pernah mengalami sehingga anda harusnya LEBIH TAHU apa yang harus Anda LAKUKAN. Bahkan masa lalu yang mengecewakan itu anda lupakan atau anda anggap "kadaluarsa" sehingga anda memutuskan mulai hari ini anda bisa menjadi pribadi yang LEBIH BAIK, anda bukan masa lalu anda.
Adapun masa lalu yang mengecewakan itu bisa jadi penghambat jika anda hanya meratapi dan menyesalinya tapi tidak segera bangkit karena anda terlalu larut untuk mengingat-ingatnya terus. Sehingga anda melabel diri anda, anda saat ini adalah masa lalu anda.

Kesimpulan saya disini. Anda bisa MEMUTUSKAN masa lalu anda sebagai sebuah PENGALAMAN yang harus diingat-ingat ATAU anda menggangap masa lalu itu harus dilupakan alias KADALUARSA sesuai hasil yang anda harapkan.

Yang jelas mau anda ingat-ingat atau anda lupakan semua itu menjadi pembelajaran bagi hidup anda. Yang BAIK diTERUSKAN, yang JELEK diTINGGALKAN.

Semoga hidup kita jadi lebih bermakna dari pembelajaran masa lalu kita. ALLOH Maha Tahu atas apa yang kita lakukan. ALLOH juga Maha Bersyukur atas kesyukuran kita terhadap nikmat-nikmat yang telah kita dapatkan dan kebaikan yang kita lakukan.
ALLOH juga Maha Mengampuni dan Maha Menerima Taubat atas kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan, lalu kita menyesalinya kemudian bertaubat dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

Semoga hidup kita mulai dari sekarang dan seterusnya lebih baik dan lebih bermakna. Aamiiin.

"SIHIR" KATA-KATA

Pagi yang cerah, sejuk ditemani segelas tehhangat.
Hari ni ketika buka status2 FB banyak yang menuliskan status2 yg inspiratif, kali ini bukannya hanya sekedar pengen ikut2an tapi ingin meramaikan dan ikut menebarkan benih kebaikan.
Saya jadi ingat, saat guru saya memberi pelajaran betapa "berartinya" sebuah kata-kata yang keluar dari mulut kita. Kenapa saya beri tanda "." (Petik) berarti disini bisa jadi menyebabkan baik dan juga sebaliknya. Artinya setiap perkataan kita itu tidak ada yang hambar/tidak memiliki arti. Klo boleh saya bilang hambar itu kan juga sebuah arti.

Saya mulai dari yang jelek2 dulu ajalah, ibarat makan, ngambil yang pait2 dulu baru nanti yang manis, klo manis dulu baru pait kan gak enak.
Hem, lagi2 memori saya dipanggil tentang sebuah eksperimen yang dilakukan dalam sebuah kantor. Suatu saat ada seorang pegawai kantor yang berangkat dari rumah dalam keadaan segar bugar, sehat wal afiat penuh semangat. Singkat cerita teman2 kantornya sudah "diset" terlebih dahulu setiap ketemu dengannya untuk mengatakan "kamu kenapa? Kok kliatan pucat gitu? Sakit ya?". Yup betul, saat sampai dikantor dia bertemu temannya si A, lalu A mengatakan demikian, awalnya pegawai ini mengelak, "ah nggak, aku baik2 saja kok, sehat, malah penuh semangat lagi." Tapi lama2 karna tiap temen yang dijumpai mengatakan seperti itu dia akhirnya jadi lungkrah/ga semangat, merasa gak enak badan hingga akhirnya dia ijin dari kantor dengan alasan sakit dan lemes.
Wuiiisss... Subhanalloh begitu "menyihirnya" sebuah kata2 itu... Dari yang sebelumnya sehat bisa jadi (merasa) sakit. Brarti kata2 bisa membuat orang sakit donk kak? Klo membuat orang sehat juga bisa kak?
Sabar, sementara Anda penasaran, saya akan menyampaikan pendapat saya, tapi tidak sekarang, nanti diakhir tulisan saya, sehingga Anda memutuskan untuk terus mengikuti tulisan saya ini Sekarang.

Yang ke-2, betapa kata2 bisa membangkitkan sisi positif. Klo ini saya punya banyak contoh, tapi saya tidak akan mengemukakan semuanya. Yang gampang ajalah, klo Anda ketemu seseorang lalu mengatakan "wuiiiihhh... Tambah ganteng/cantik aja..." Langsung aja deh liat bibirnya, hampir 99,89% InsyaALLOH dia akan tersenyum.
Dan masih banyak contoh yang lain. Tapi sedikit saya akan memberi contoh tentang kata2 yg positif/menyehatkan, coba Anda liat dalam Kitab suci, semuanya selalu memberi dampak yang positif sekalipun itu berupa ancaman/menakut2i, tapi arahnya "menyehatkan" dan membangkitkan energi positif dihati. Kok bisa gitu ya? Tapi kenapa klo yang mengucapkan orang kok bisa sebaliknya. Jangankan orang yang ngomong "ngawur", kadang ketika seseorang memberikan nasehat yang baik saja bisa dianggap menyakitkan hati kok.

Nhah yo... Dari pancingan saya tadi saya yakin Anda mulai terbuka dengan pertanyaan saya diatas, dan sesuai janji saya untuk menjelaskan diakhir tulisan.

Menurut saya, kata2 itu bisa bermakna positif atau negatif tergantung dari kita pribadi yang menilainya. Bisa jadi lho cacian-makian itu berbuah positif bagi seseorang sehingga dia berusaha bangkit untuk membuktikan itu tidak benar. Tapi sebaliknya, bisa juga lho "kata2 manis" berbuah negatif bagi seseorang, sehingga dia merasa kata2 itu hanya menyindir atau dianggap mengejek. Mungkin Anda pernah mengalami, saat memuji teman Anda, teman Anda malah merasa tersinggung.

Well, jadi apapun itu jenis perkataan Andalah yang memutuskan untuk menilainya. Apakah anda Memilih untuk mengAmbil sisi negatifnya atau Positifnya.
Oleh karenanya ber-HATI-HATI-lah setiap Anda memutuskan untuk BERKATA, karena bisa jadi perkataan Anda menimbulkan nilai positif bagi orang lain atau justru negatif bagi orang lain. Dan bisa juga perkataan Anda itu berpengaruh positif sehingga menguntungkan Anda, atau malah negatif sehingga merugikan diri Anda sendiri.

Kesimpulan saya :
"Mankaana yu'minubillaahi wal yaumil akhir falyakul khoiron auliasmut."

Barang siapa yang percaya (iman) kepada ALLOH dan hari akhir (kiamat), maka (jika) bicara yang baik, (jika tidak bisa) atau diam.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Rabu, 22 September 2010

nama Baru Dan Semangat Baru



Welcome to Soluta Remaja Masjid Baitul A'laa
Assaalamu' alaikum warrohmatullohi wabarokatuh
Keputrian Muda-Mudi daerah Solo Utara atau remaja masjid Baitul A'laa Surakarta dibulan ini resmi berganti nama menjadi " SRIKANDI Solo Utara " dengan arti Yaitu Sarana Remaji Kreatif dan Mandiri sehingga bisa menjadi sarana mengembangkan kreatifitas, kemandirian dan keilmuan. dimana sebelumnya bernama keputrian muda-mudi solo utara , karena sekarang digunakan untuk ibu-ibu. dan semoga dengan nama baru bisa menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat bagi semua.
amin. Wassalamu' alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Selasa, 21 September 2010

GAMBARAN NASEHAT


Welcome to Soluta Remaja Masjid Baitul A'laa

Ada sebuah gambaran seperti ini :
Ketika ada anak yg akan menyeberang rel kereta tiba2 dr arah berlawanan muncul kereta api, si anak tdak mendengar lalu ada orang yg berteriak dengan keras, bahkan membentak2 si anak ttap tdak dengar, hingga pada akhirna orang itu menarik dengan kasar hingga anak terjatuh.. Seandainya dia mengingatkan anak itu hanya dgan lemah lembut suarana maka "habislah" anak itu...

Pada saat posisi kita dinasehati sebenernya tergantung dari kita yg menerimana, bukan dari penasehatna. Dengan catatan nasehatna itu isina baik. Yg harus kita lakukan adalah ambil manfaatna, jangan lihat "siapa orang yg nasehat", syukuri nasehat itu, karena nasehat itu anugerah. Bersyukurlah jika kita masih mendapatkan nasehat, ibarat tubuh kita seperti obat dikala sakit yang menyembuhkan, seperti vitamin dikala sehat yg menjaga kesehatan dan kekuatan diri kita.

Obat/vitamin itu kadang ada yg manis kadang ada yg pahit, tapi semua tujuana sama, sama-sama menyehatkan.

Begitupula dengan nasehat, nasehat kadang "manis" kadang "pahit" di hati, tapi tujuannya sama, sama-sama memberdayakan hati.

Saya masih ingat pesan "Abah", klo nasehat iramana supaya baik, bisa nyontoni, tidak mempermalukan didepan umum..
Beliau juga berpesan, untuk menjaga hati dan keimanan "HOBIKAN MENDENGAR NASEHAT"... :)

"Agama itu nasihat"...
Well, seperti apakah kita memaknai nasehat semuana tergantung peribadi masing2.
Yang baik diambil, yang tidak baik hiraukan... :)

MEMAYUNGI HATI DENGAN ILMU


Welcome to Soluta Remaja Masjid Baitul A'laa

Salam,
Malam ini hujan turun dengan deras, di saat aku menuntut ilmu bersama dengan saudara-saudaraku. Hujan tak menghalangi tolabul 'ilmi malam ini. Aku lantas teringat kala itu. Dimalam hari, tepatnya ba'da Isya', hujan deras saat itu membasahi kampung sekip. Aku berjalan keluar rumah untuk mengisi pengajian di Masjid yang terletak kurang lebih 1 km dari masjid di depan rumahku. Hari itu aku mendapat giliran amalsholih untuk mengajar di Masjid lain.

Saat ku tenggok masjid besar nan megah itu, kulihat puluhan payung "diparkir" di halaman masjid. Tak terasa air mata ini menahan haru. Subhanalloh... Indahnya pemandangan itu...Aku yakin ALLOH pun akan ikut tersenyum melihatnya... Mereka adalah umat muslim yang dengan ketekatan hati tetap mendatangi pengajian sekalipun hujan deras mengguyur. Hujan tak menjadi alasan bagi mereka untuk menetapi dalil "tholabul 'ilmi faridhotun 'alaakulli muslimin" (mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi tiap-tiap umat Islam). Mereka begitu faham akan dalil "al-'ilmu hayatul islam wa'imadul iimaan" (Ilmu adalah kehidupannya Islam dan tiangnya keimanan). Saat itulah InsyaALLOH air hujan yang membasahi tubuh mereka akan menjadi saksi di Akherat atas apa yang mereka lakukan.

Yang perlu kita renungkan adalah, sudahkah dalam beribadah kita selalu mempersungguh? Aku teringat akan gambaran dari seorang penasehat, saat itu dia menggambarkan, seandainya pahala itu ditunjukkan langsung, wooo...maka semua orang pasti akan mempersungguh dalam beribadah. Sebagai gambaran, kalau pahalanya orang yang mengaji itu ditampakkan, katakanlah didepan ini ada uang satu kontainer, lalu barang siapa yang mengaji satu jam saja lamanya maka akan diberi uang 10 juta, saya yakin pasti yang hadir disitu akan minta waktu pengajiaannya ditambah. Right? :)
Bahkan ketika Jibril ditanya ALLOH, seandainya manusia melihat surga bagaimana para manusia, lalu Jibril menjawab "Yaa ALLOH manusia pasti akan sujud selama-lamanya". Tapi... Setelah itu Jibril diminta kembali menengok Surga, dan ternyata surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang membencikan. Lalu Jibril berkata "Yaa ALLOH apa ada hambamu yang bisa masuk surga?" Itu karena untuk masuk surga penuh dengan cobaan dan ujian. "Ad-dunya sijnul mu'minin wajannatul kaafiirin" (Dunia adalah penjaranya orang Iman dan Surganya orang Kafir). Sudah barang tentu segala perbuatan yang menggandung pahala berat untuk dilaksanakan. Bukankah orang yang bangun di 1/3 malam yang akhir keutamaanya luar biasa? Mereka yang berdo'a akan dikabulkan, mereka yang minta ampun akan diampuni, ALLOH juga akan menyelamatkan mereka dari penyakit dan melindungi dari kejahatan Syetan. Subhanalloh... :')

Subuh tadi seorang ulama' sepuh yang menirukan nasehat Kyai H.Nurhasan Al-Ubaidah Lubis (Alm), "Neraka itu panasnya 70x lipat api dunia, batu besar yang dimasukkan ke dalam neraka baru sampai setelah 70 tahun, tidak ada belas kasih didalam neraka, semuanya siksa yang kejam, minumannya nanah uwuk (nanah yang bercampur darah yang baunya sangat busuk), seandainya saja kita di dunia ini beribadah hanya diampuni dosa-dosanya saja itu sudah sukur puuuooool, soalnya kita berarti diselamatkan dari api neraka."

Tidakkah terfikir dalam benak kita, bahwa tugas kita di dunia ini yang hakiki adalah beribadah kepada ALLOH. Bukankah kita harus mendahulukan dan menomor 1 kan urusan ibadah dibanding urusan duniawi? Ibadah memang bisa dilakukan dalam berbagai macam hal. Suami yang bekerja untuk menafkahi keluarganya itu juga ibadah. Istri yang membantu kerepotan suami itu juga ibadah, anak yang berbakti pada orang tua itu juga ibadah, menghormati tamu itu ibadah, berbuat baik pada tetangga itu juga ibadah, dll.

Ingatlah ALLOH juga telah berfirman "Intansurulloha yansurukum" (barang siapa menolong dalam agamanya ALLOH maka ALLOH juga akan menolong kalian (kita) )... Subhanalloh... :') Lalu bagaimana pula dengan janji kita "Innasholati wanusuki wamahyaya wamamati lillaahirobbil 'alamiin" (Sesungguhnya solatku, dan ibadahku, dan hidupku, dan matiku hanyalah untuk ALLOH Tuhan Semesta Alam)?

Sungguh halangan, rintangan, cobaan yang datang pada kita jangan dijadikan alasan untuk tidak beribadah kepada ALLOH. Perbanyaklah mencari ilmu, karena dengan ilmu kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus kita jalani dan mana yang harus kita hindari, mana halal mana haram, mana cerita yang bisa kita teladani dan mana cerita yang harus kita hindari. Subhanalloh... hidup ini sebenarnya terasa mudah karena ALLOH telah memberikan pada kita "buku pedoman" yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Hayo ingatlah... Bukankah ALLOH benci terhadap hamba-Nya yang hanya pintar ilmu dunia tapi bodoh dalam ilmu akhirat (agama)... Subhanalloh... Engkau Maha Suci atas segala-galanya... Coba kita renungkan berapa lembar koran yang kita baca tiap harinya? berapa banyak buku tebal yang sudah kita lalap habis? berapa banyak buku terjemahan asing yang sudah kita translate kan? Lalu berapa banyak Ayat Qur'an yang sudah kita baca tiap harinya? Berapa kali kita meng-khatamkan baca'an Al-Qur'an? Sudahkah kita khatam baik bacaan, makna (arti) dan keterangan dari ayat-ayat Qur'an? Berapa banyak hadits-hadits yang telah kita pelajari?... Subhanalloh... :')

Coba kita renungkan, jika untuk mendapatkan gelar sampai sarjana setidaknya kita butuh waktu 16-17 tahun...wowww... Subhanalloh... Itu saja kita harus belajar dengan guru, lalu bagaimana dengan Al-Qur'an dan Hadits? harusnya lebih sempurnanya juga dengan guru tidak dengan otodidak... Karena Rosululloh SAW sendiripun juga belajar dari ALLOH melalui Malaikat Jibril, Para Sahabat belajar dari Rosululloh, kemudian Para tabi'in belajar juga dari Sahabat2 nabi, sehingga ilmu itu bisa terjaga terus dan murni sampai yang kita dapatkan.

Ayok kita ciptakan gerakan hobikan mengaji... :')
Kita "parkir" hati kita di Masjid-masjid, di majlis-majlis ilmu, bersama dengan para 'alim-ulama', mubaligh-mubalighot, dan orang-orang yang mempersungguh dalam agama.
And Finally... SEGERA AMALKAN ILMU ITU DENGAN NIAT SEMATA-MATA KARENA ALLOH... :')
Selamat Menggaji... :)

DURHAKA


Welcome to Soluta Remaja Masjid Baitul A'laa

Orang tua adalah segalanya bagi hidup kita. Sososk manusia yang benar-benar paling berharga dalam hidap ini. Tak terbayang jika hidup ini tidak ada orang tua disi kita. Namun terkadang seorang anak tak dapat melihat keadaan orang tuanya, mereka hanya melihat sebelah mata saja, sehingga banyak sekali terjadi perselisihan yang terjadi antara anak dan orang tua. Sebagai anak kita harus selalau menghurmati orangtua kita, seperti apapun mereka dan harus selalau thoat kepada mereka selagi tidak makasiat. Secara tidak sadar kita hidup membutuhkan orang lain disisi kita. Aristotels mengatakan bahwa manusia adalah zoo politicon, yang artinya bahwa manusia itu mahkluk sosial yang selalu membutuhkan bantua orang lain.

Terlebih orang tua kita yang selalu mendampingi hidp ini dari kita lahir sampai kita dewasa. Namun orang tua tidak pernah meminta imbalan apapun dari anak nya.

Suatu ketika terdapat cerita seorang remaja yang menyesali perbuatanya karena telah durhaka terhadap Ibunya. Ini terjadi pada jaman dahulu , seorang ibu yang hanya memiliki anak semata wayang bernama kumai, keseharianya anak ini selalu hormat kepada orang tuanya bahkan sampai kumai menikah. Pada saat itu kumai menikah dengan seorang wanita dari negeri tetangga yang sebenarnya dalam hatinya tidak pernah suka terhadap ibunya. Hingga pada susatu ketika kumai memeritahkan kepada sang istri untuk mengirimkan makana kepada ibunya, belum sampai di tempat tujuan istri tersebut pulang dan mengatakan kepada suami kalau samg ibu tak mau menerima makanan darinya. Padahal cerita itu adalah dusta.

Akibatnya sang kumai memusui ibunya, ketika ibunya datang kerumahnya tidak pernah dibukakan pintu olehnya, ini berlangsung beberapa kali. Hingga suatu ketika hati sang ibu merasa sakit karena merasa tidak dihurmati dan dihargai lagi sebagai seoranng ibu. Pada suatu ketika kumai mendekati maut, ia mengalami kesulitan mati. Ini diakhibatkan karena telah durhaka atau menyakiti hati orang tua dan kumai baru mati setelah ibunya memaafkan kesalahanya.

Sebenarnya apa durhaka itu?
Durhaka merupakan keadaa dimana perbuatan seorang anak yang membuat hati orang tua merasa sakit karena perbuatan tersebut. Banyak hal yang sebenarnya dikatakan sebagai durhaka salah satunya adalah bdengan berkata ”hus” atau ”alah” kepada orang tua . ini merupakan gejala durhaka kecil, namun sekecil apapun durhaka terhadap orang tua sama saja namanya tetap durhaka. Dan mendapat dosa pula.

Sebenarnya. . . .
Durhaka memberikan sengsara didunia dan di akhirat. Bayangkan saja seorang yang durhaka merupaka termasuk tujuh golongan manusia yang tidah akan dilhat Allah ketika hari kiamayat.
Jadi biasakan setiap hari sungkem terhadap orang tua. Jangan hanya ketika lebaran saja. Serta sebaiknya orang yang bersalah adalah orang yang mau bertaubat kepada Allah.